Abdul Rahman Saleh
Sandekala, dalam kepercayaan masyarakat Sunda, adalah waktu yang tidak pernah benar-benar sunyi. Ia datang di peralihan sore menuju malam—ketika cahaya meredup, ketika bayangan memanjang, dan ketika dunia yang kasat mata perlahan berbagi ruang dengan yang tak terlihat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar